1 tesalonika 5 : 18
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu"
Terlahir cacat bukanlah keinginan semua orang. Tetapi itulah yang terjadi padaku, yaitu adanya tumor yang menempel pada mata kiriku.
Sebenarnya, aku tidak tau, sebenarnya aku ini terlahir cacat ataukah tumor itu ada setelah aku lahir, karena ada 2 versi tentang tumor yang menempel dulu menempel di mata itu.
Versi pertama mengatakan bahwa aku terlahir cacat. Menurut mereka, penyebabnya adalah sumpah Bapakku, karena saat aku masih di dalam kandungan, Bapak meragukan statusku, apakah aku ini benar-benar anaknya atau bukan. Hal ini membuat Bapak mengucapkan sumpah, bahwa jika aku terlahir cacat maka aku bukan anaknya, tetapi jika aku terlahir normal, maka aku anaknya.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, ‘dilalah’ aku terlahir cacat. Hal ini membuat Bapak frustasi dan beberapa waktu kemudian beliau memutuskan untuk ikut bertransmigasi ke Bagan Siapi-Api, Banyuasin, Sumatra Selatan. Sejak itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Bapak. Aku memang pernah ke Sumatera dengan Ibu, tetapi aku tidak ingat, apakah saat itu aku dan Bapak bertemu atau tidak.
Perjumpaan dengan Bapak yang dapat aku ingat adalah pada saat aku kelas 5 SD. Bapak dating dari Sumatra karena salah satu keponakannya menikah. Pada saat itu, salah seorang adik tiriku dari Smuatra juga datang. Tetapi karena saat itu aku masih kecil dan sudah 5 tahun tinggal di Panti Asuhan, maka pertemuan itu tidak berkesan. Senang tidak, benci juga tidak. Biasa aja.
Pada waktu masih SD, bekas tumor pada mata kiriku tidak mengganggu aktifitasku atau membuatku tidak pede. Tetapi, ceritanya berbeda pada waktu aku sudah memasuki bangku SMP. Maklum, pada waktu SD, teman-temanku adalah anak-anak yang masih polos dan sudah mengenalku dari kelas 1 SD, sehingga mereka terbiasa dengan ke’tidak-normal’anku. Tetapi di SMP, teman-temanku adalah orang-orang yang tidak mengenalku sama sekali sebelumnya. Jadi tidak heran kalau mereka memandangku sebagai sesuatu yang aneh atau pandangan negative lainnya.
Yang paling menyakitkan adalah, jika ada yang melihatku (terutama cewek J ) tetapi kemudian tertawa atau bergunjing dengan temannya sambil sesekali memandang / melirik ke arahku. Kalau hal ini terjadi, aku menjadi merasa sangat terhina. Hal ini kemudian tanpa sadar membentuk karakter yang sensitive dan rendah diri pada diriku, terutama jika berurusan dengan cewek. Sampai sekarang aku masih ogah bertatapan, apalagi beradu pandang dengan cewek, karena merasa malu pada ‘penampakan’ wajahku. Untunglah, masih ada beberapa yang mau menjadi temanku, dengan (mungkin) kompensasi membantu mereka mengerjakan tugas Bahasa Inggris.
Dari SMP N I Cluwak – Pati, aku melanjutkan sekolah ke SMK N I Pati, atau lebih dikenal dengan SMEA Negeri Pati. Disekolah ini, kebanyakan siswanya adalah perempuan, sehingga pada awalnya aku adalah siswa yang kuper, suka menyendiri, dan tidak punya teman. Tetapi, di SMK inilah aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari kakak seniorku di Ambalan Taruna Niaga. Dari dia, aku belajar, bahwa dibalik kekurangan yang aku miliki, di dalamnya ada juga kelebihan, yang jika aku gali dengan baik, dapat aku gunakan untuk menutupi kekuranganku.
Dengan bimbingannya, aku mulai mengasah talenta yang aku miliki, kegemaranku menggambar aku salurkan dengan membuat komik strip di mading sekolah, dan aku juga mulai aktif di kegiatan ekskul lain, seperti OSIS dan kepramukaan. Di OSIS, aku menjadi pengurus, walau hanya sebagai salah seorang seksi. Sementara di Pramuka, saat kelas I aku menjadi Ketua Sangga dan kemudian terpilih menjadi Pradana Ambalan Taruna Niaga.
Pada waktu menjadi Pradana di Ambalan Taruna Niaga SMK N I Pati itulah yang menjadi titik balik dari rasa minder dan tidak percaya diriku. Aku merasa ‘Aku Mampu’ dan ada yang harus aku perjuangkan dengan posisi dan kemampuan yang aku miliki. Salah satunya adalah menciptakan system yang terpadu dalam kegiatan pendidikan kepramukaan di SMK N 1 Pati.
Keinginan ini memacu semangat dan kemudian semangat yang aku miliki ini membuat semakin banyak yang bersimpati. Baik dari kalangan teman-teman, adik kelas, maupun guru. Dan hal ini pula yang membuatku semakin terbuka, semakin bisa bergaul dengan semua orang, dan bahkan mulai ‘nakal’. J
Setelah usaha pencarian, pengarsipan, dan pendokumentasian selama beberapa bulan (± 3 bulan), aku dapat menyusun sebuah Buku Panduan Materi Kepramukaan untuk Ambalan Taruna Niaga. Buku ini membuat namaku semakin dikenal di sekolah, dan berhasil memacu semangat adik-adik kelas untuk mengikuti latihan pramuka di Ambalan Taruna Niaga. Sampai sekarang, setelah 9 tahun, buku ini masih dipakai oleh pengurus Ambalan Taruna Niaga. Aku sangat bersyukur, karena akhirnya aku dapat melakukan sesuatu yang dapat berguna untuk orang banyak, walaupun (sayang sekali) buku panduan tersebut adalah satu-satunya yang aku buat, karena tidak ada kopiannya. Jadi kalau tidak ada inisiatif dari pengurus Ambalan yang sekarang untuk memperbaharui ya mboh sampai kapan buku panduan itu mampu bertahan.
Sukses menyusun buku panduan dan memimpin Ambalan Taruna Niaga membuatku semakin pede dalam menjalani hari-hari. Rasa rendah diri karena cacat dan percaya diri yang kemudian timbul berpadu menjadi satu dan membentuk aku menjadi orang yang ‘tau diri’ Adanya cacat mengingatkan kala ada rasa sombong datang, dan rasa ‘aku mampu’ membuatku kembali pede saat aku merasa rendah diri / malu pada keadaanku.
Tuhan memberiku pelajaran hidup dengan cara yang sangat misterius, dan sangat indah pada akhirnya. Saat ini, aku sudah bias menerima keadaanku yang cacat dan miskin, sehingga harus tinggal di Panti Asuhan, karena keadaan yang cacat dan harus hidup di Panti Asuhan telah mengajariku untuk menjadi orang yang tetap rendah hati tetapi tetap percaya diri setiap saat.
Bila Anda mempunyai cacat, yakinlah bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk Anda. Bila Anda miskin, yakinlah Tuhan akan selalu menjaga Anda. Bila Anda harus tinggal di Panti Asuhan, yakinlah masih banyak orang lain yang kehidupannya jauh lebih buruk dari Anda (bahkan seringkali hidup di PAnti Asuhan adalah jauh lebih baik keadaannya dari pada hidup di rumah sendiri / masyarakat).
Yang paling penting, GALILAH BAKAT DAN TALENTA ANDA YANG MASIH TERPENDAM..!! Karena setiap manusia diciptakan-Nya dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
SELAMAT BERJUANG DAN BERSYUKURLAH SENANTIASA DALAM SEGALA PERKARA…!!
Rabu, 04 Februari 2009
Langganan:
Komentar (Atom)