Saya punya satu pertanyaan untuk Anda.. Apa alat tulis yang Anda gunakan waktu masih bersekolah dulu? Apakah buku dan pulpen? Kalau ya, mungkin kisah di bawah ini bisa membuat kita lebih bersyukur akan apa yang kita terima..
Bulan Nopember 2008 yang lalu, saya mendapat tugas dari NGO tempat saya bekerja untuk mengikuti rapat di Bangladesh. Saya tidak menjumpai apapun yang spesial di sana, sebelum saya melakukan peninjauan, meskipun memang kalau dilihat sekilas, tingkat kesejahteraan rakta Bangladesh masih beberapa lefel di bawah Indonesia.
Yang membuat saya trenyuh adalah, pada saat peserta rapat di ajak untuk berkeliling apda tempat-tempat kegiatan NGO tuan rumah rapat. Salah satu tempat tersebut adalah Sekolah informal yang didirikan oleh didirikan oleh TSDS (Thanapara Swallow Development Society-tuan rumah rapat) dengan cara menyewa sebuah bangunan dari seseorang.
Bangunan ‘sekolah’ itu berdinding kayu ‘yute’ / rosella yang dilabur dengan tanah liat yang dicampur kotoran sapi. Di Indonesia, mungkin agak sulit untuk menemui gedung sekolah yang dindingnya dibuat dari batang pohon 'yute' (rosela). Bahkan sekolah yang ditampilkan dalam film Laskar Pelangi pun jadi lebih mewah jika dibandingkan dengan sekolah ini. Untuk menutupi celah-celah diantara batang-batang rosela itu, digunakan tanah liat yang dicampur dengan kotoran sapi. Campuran ini kemudian dilulurkan pada dinding kayu rosella ini.
Lantainya? Jangan bayangkan lantai semen apalagi keramik. Lantai sekolah ini dibuat dari campuran tanah liat yang dicampur dengan kotoran sapi, sama dengan dindingnya. Selama proses belajar mengajar, para siswa duduk dilantai beralaskan tikar dengan membentuk huruf U.. Ngenes kan?
Walaupun jika diamati, bangunan tersebut lebih tepat dibilang ‘gubug’, tetapi anak-anak mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah itu dengan penuh semangat.
Murid-murid Sekolah Informal tersebut bernyanyi dan menari untuk menyambut peserta meeting yang mengunjungi mereka. Selain itu, untuk perkenalan anak-anak juga menuliskan nama dan alamat mereka.
Yang membuat saya paling trenyuh adalah alat tulis yang mereka gunakan.Untuk menulis, murid-murid disana memakai pensil dan papan bercat hitam seukuran kurang lebih 2 halaman buku tulis (sabak). Di Indonesia, si sabak ini digunakan pada masa penjajahan dulu, tapi di sini, masih banyak sekolah yang menggunakannya. Memang ada beberapa yang mempunyai uku tulis, tetapi hanya digunakan untuk PR saja.
Untuk menarik minat anak-anak supaya mau bersekolah di tempat tersebut, selain diajarkan pelajaran formal, juga ada pelajaran bernyanyi dan menari. Anak-anak bersekolah di tempat ini selama 3 tahun, dan tidak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, setelah mereka lulus dari sekolah itu. Kegiatan belajar-mengajar diselenggarakan selama 6 hari seminggu, dari hari sabtu sampai Kamis, sedangkan hari Jumat libur.